Surabaya, 10 Juni 2026 – Rek, wake up! Ada kabar yang bener-bener bakal bikin kamu langsung cek saldo m-banking atau dompet digital kamu sekarang juga. Mulai hari ini, Rabu, 10 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, resmi melakukan penyesuaian harga untuk jajaran Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mereka. Dan yang paling bikin geger tongkrongan, bikin trending topic di X (Twitter), sampe bikin grup WhatsApp keluarga penuh dengan emotikon nangis adalah: Pertamax (RON 92) resmi naik ke angka Rp 16.250 per liter!
Yup, kamu nggak salah baca dan ini bukan prank konten kreator. Dari yang sebelumnya berada di kisaran Rp 12.300-an per liter (untuk wilayah Jabodetabek), kini Pertamax melompat cukup jauh ke angka 16 ribuan. Kenaikan yang mencapai lebih dari 30% atau sekitar Rp 3.950 per liter ini tentu aja langsung memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Tapi, sebelum kamu panik atau buru-buru pengen ganti kendaraan jadi sepeda listrik yang lagi hits, yuk kita bedah tuntas kenapa hal ini bisa terjadi, apa alasan mendalam di baliknya, apa dampaknya buat gaya hidup kita, dan gimana caranya biar tetep bisa mobilitas tanpa harus “puasa” jajan kopi kekinian!
Kenapa Pertamax Naik Drastis? Bukan Cuma Pertamina yang “Lagi Pengen Naik”, Tapi Dunia Emang Lagi “Panas”!
Banyak yang bertanya-tanya dengan nada agak emosi, “Kok naiknya tega banget sih? Langsung lompat ke 16 ribu? Padahal kemarin kayaknya masih aman-aman aja.” Nah, sebenernya ada alasan-alasan besar di balik layar yang perlu kita pahami biar kita jadi anak muda yang kritis dan nggak cuma sekadar marah-marah tanpa data di kolom komentar media sosial. Pertamina nggak asal ketok palu buat naikin harga, tapi ada faktor global yang bener-bener di luar kendali kita sebagai bangsa.
1. Harga Minyak Dunia yang Lagi “Ngegas” Tanpa Rem
Faktor utama dan yang paling fundamental adalah harga minyak mentah dunia. Saat ini, kondisi geopolitik global lagi bener-bener nggak menentu. Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara produsen minyak besar bikin pasar energi dunia jadi super sensitif. Ketika ada konflik di wilayah strategis kayak Selat Hormuz, pasokan minyak dunia langsung terancam. Hukum ekonomi pun berlaku dengan kejam: ketika barang susah didapat atau pasokannya terancam, harganya pasti melambung tinggi. Harga minyak mentah jenis Brent dan WTI udah tembus angka yang bikin para menteri keuangan di seluruh dunia pusing tujuh keliling. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan produk BBM-nya, Indonesia tentu aja kena imbasnya secara langsung dan instan [1].
2. Nilai Tukar Rupiah yang Sedang “Meriang” Terhadap Dolar AS
Selain harga minyak, ada satu lagi “penjahat” di balik kenaikan ini, yaitu nilai tukar mata uang. Saat ini, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS lagi mengalami tekanan yang cukup berat akibat kebijakan suku bunga di Amerika Serikat yang masih tinggi. Masalahnya, transaksi minyak internasional itu semuanya pake Dolar AS. Jadi, ketika Rupiah melemah (misalnya dari Rp 15.000 jadi Rp 16.000 per Dolar), biaya yang harus dikeluarkan Pertamina buat beli minyak mentah dari luar negeri jadi otomatis makin mahal, meskipun harga minyak dunianya tetep. Ini yang disebut sebagai “tekanan ganda” atau double hit: harga barangnya naik, dan mata uang buat belinya juga lagi melemah. Inilah alasan kuat kenapa harga BBM non-subsidi kayak Pertamax harus disesuaikan biar Pertamina nggak terus-terusan rugi dan bisa tetep mastiin bensin tersedia di seluruh pelosok negeri [2].
3. Penyesuaian Harga SPBU Swasta yang Udah “Start” Duluan
Kalau kamu jeli dan sering lewat SPBU swasta kayak Shell, BP, atau Vivo, sebenernya mereka udah lebih dulu melakukan penyesuaian harga di awal Juni 2026 kemarin. Bahkan, beberapa jenis BBM dengan RON 92 di SPBU swasta tersebut udah menyentuh angka Rp 16.600-an sampai Rp 16.800-an per liter. Pertamina sebenernya udah berusaha banget buat “menahan” harga Pertamax selama mungkin biar nggak terlalu membebani masyarakat. Tapi, selisih harga yang terlalu jauh antara Pertamina dan swasta bisa bikin beban subsidi atau kompensasi pemerintah makin membengkak nggak karuan. Akhirnya, mengikuti mekanisme pasar adalah pilihan paling rasional agar ekosistem bisnis energi nasional tetep sehat [3].
Dampak Sosial: Bagaimana Kenaikan Ini Mengubah Pola Interaksi Kita?
Kenaikan harga BBM bukan sekadar angka di mesin pompa, tapi juga berpengaruh pada cara kita bersosialisasi. Budaya “nongkrong” yang sangat kental di Indonesia mungkin akan mengalami sedikit pergeseran. Jika biasanya kita dengan mudahnya menyetujui ajakan meet up di kafe yang jaraknya 15-20 km dari rumah, sekarang kita mungkin akan berpikir dua kali atau lebih memilih tempat yang bisa dijangkau dengan transportasi umum.
Fenomena “ngopi di rumah” atau “nongkrong di teras” mungkin akan kembali populer. Selain itu, kenaikan ini juga memicu munculnya komunitas-komunitas baru, seperti komunitas sepeda kantor atau grup koordinasi tebengan di lingkungan perumahan. Secara tidak langsung, tantangan ekonomi ini memaksa kita untuk kembali ke nilai-nilai komunal dan saling membantu. Inilah sisi positif yang bisa kita ambil: kita jadi lebih kreatif dalam mencari cara untuk tetap terhubung tanpa harus menguras kantong.
Detail Harga Terbaru BBM Pertamina per 10 Juni 2026: Cek List-nya Biar Nggak Kaget Pas di Depan Pompa!
Biar kamu nggak bengong atau salah liat angka pas lagi ngisi bensin, ini dia daftar lengkap harga terbaru BBM non-subsidi Pertamina untuk wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Perlu diinget, buat wilayah lain di luar Jawa mungkin ada sedikit perbedaan harga karena faktor ongkos kirim dan pajak daerah (PBBKB) masing-masing provinsi:
•Pertamax (RON 92): Dari Rp 12.300 melompat jadi Rp 16.250 per liter.
•Pertamax Green 95 (RON 95): Dari Rp 13.900 menjadi Rp 17.000 per liter. (Ini bensin yang ada campuran etanol nabatinya, lho!)
•Pertamax Turbo (RON 98): Buat kamu yang pake mobil sport atau motor gede, harganya kini menyentuh Rp 20.750 per liter.
•Dexlite (BBM Diesel): Naik cukup tinggi menjadi Rp 23.000 per liter.
•Pertamina Dex (Diesel Premium): Menjadi yang paling mahal di jajaran diesel dengan harga Rp 24.800 per liter.
Kabar baiknya (dan ini penting banget buat dicatat!), buat kamu pengguna Pertalite (RON 90) dan BioSolar, pemerintah masih berkomitmen buat TIDAK MENAIKKAN HARGA BBM SUBSIDI ini sepanjang tahun 2026. Jadi, buat para pejuang harian yang mobilitasnya sangat bergantung pada subsidi, napasnya masih bisa agak lega sedikit. Tapi tetep ya, pake BBM subsidi harus bijak dan tepat sasaran [4].
Inovasi Teknologi: Apakah Ada Solusi Penghemat BBM yang Efektif?
Di tengah kenaikan harga, banyak orang mulai melirik berbagai alat atau cairan penghemat BBM. Namun, sebagai konsumen cerdas, kita harus berhati-hati. Solusi penghemat BBM terbaik sebenarnya sudah tertanam di kendaraan kamu jika dirawat dengan benar. Penggunaan oli mesin dengan viskositas yang tepat, pembersihan sistem injeksi secara berkala, dan penggunaan filter udara berkualitas tinggi jauh lebih efektif daripada memasang alat-alat tambahan yang belum teruji secara klinis.
Selain itu, teknologi Stop-Start System pada kendaraan modern juga sangat membantu menghemat bensin saat terjebak macet. Jangan matikan fitur ini demi kenyamanan sesaat, karena setiap tetes bensin sekarang sangat berharga. Memahami cara kerja kendaraan dan teknologi yang ada di dalamnya adalah kunci utama untuk menghadapi fluktuasi harga energi di masa depan.
Detail Teknis: Mengapa RON 92 Tetap Menjadi Pilihan Utama Mesin Modern?
Bagi kamu yang hobi mengulik jeroan mesin, pasti paham bahwa angka oktan bukan sekadar angka. RON 92 dirancang untuk menahan tekanan kompresi yang lebih tinggi sebelum terbakar oleh percikan busi. Mesin modern dengan rasio kompresi 10:1 ke atas membutuhkan stabilitas pembakaran ini agar tidak terjadi pre-ignition.
Jika pembakaran terjadi terlalu dini (akibat oktan rendah), energi yang dihasilkan justru akan berlawanan dengan arah gerak piston, yang menyebabkan getaran hebat dan panas berlebih. Inilah alasan mengapa meskipun harganya naik, tetap setia pada Pertamax adalah bentuk “asuransi” bagi mesin kendaraan kamu. Mesin yang bekerja pada suhu optimal dan pembakaran yang sempurna tidak hanya awet, tetapi juga menghasilkan emisi yang jauh lebih bersih. Dengan tetap menggunakan Pertamax, kamu sebenarnya sedang berinvestasi pada umur panjang kendaraanmu.
Panduan Manajemen Keuangan Darurat: Mengatur Ulang Budget Bulanan
Kenaikan harga Pertamax sebesar Rp 3.950 per liter bisa menambah pengeluaran bulanan antara Rp 200.000 hingga Rp 500.000, tergantung intensitas pemakaian. Angka ini mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, namun bagi mahasiswa atau fresh graduate, ini adalah angka yang signifikan.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan audit pengeluaran. Cek kembali langganan aplikasi streaming yang jarang ditonton, kurangi frekuensi delivery makanan yang biaya ongkirnya makin mahal, dan mulai bawa bekal ke kantor atau kampus. Uang yang berhasil dihemat dari pos-pos tersebut bisa dialokasikan untuk menutupi kenaikan biaya bensin. Ingat, manajemen keuangan yang baik adalah tentang adaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi secara cepat dan tepat.
Dilema Anak Muda: Tetap Setia sama Pertamax atau “Pindah Haluan” ke Pertalite?
Kenaikan harga Pertamax ke angka 16 ribuan ini bener-bener jadi dilema moral dan finansial buat kita, terutama anak muda yang mobilitasnya tinggi, sering touring, atau sering pake kendaraan buat cari cuan (ojol/kurir). Ada beberapa hal penting yang harus kamu pertimbangkan matang-matang sebelum memutuskan buat “turun kasta” ke Pertalite:
1. Efek Jangka Panjang ke Kesehatan Mesin Kendaraan Kamu
Kendaraan keluaran terbaru, terutama yang diproduksi tahun 2018 ke atas, rata-rata udah punya rasio kompresi mesin yang tinggi. Mesin jenis ini butuh bahan bakar dengan RON tinggi (minimal 92) biar pembakarannya sempurna. Kalau kamu paksa pake Pertalite (RON 90), mesin kendaraan kamu bisa ngalamin fenomena yang namanya “knocking” atau mesin menggelitik. Suaranya kayak ada kelereng di dalem mesin. Dalam jangka panjang, ini bisa bikin piston bolong, kerak karbon numpuk, dan performa motor/mobil kamu jadi lemot. Biaya servis turun mesin itu bisa jutaan rupiah, lho. Jadi, coba itung lagi: mending selisih bensin 4 ribu per liter, atau keluar duit 3 juta buat benerin mesin?
2. Performa, Tarikan, dan Efisiensi Jarak Tempuh
Secara teknis, pake Pertamax itu sebenernya bikin pembakaran lebih efisien. Artinya, dengan jumlah bensin yang sama, Pertamax bisa bawa kamu melaju lebih jauh dibanding Pertalite (untuk mesin yang emang speknya RON 92). Tarikan mesin juga jadi lebih enteng, jadi kamu nggak perlu sering-sering bejek gas dalem-dalem. Ini yang sering orang lupa: harga per liter emang mahal, tapi konsumsi per kilometernya bisa jadi lebih irit. Jadi, jangan cuma liat angka di struk pembelian, tapi liat juga berapa hari sekali kamu harus balik lagi ke SPBU.
Strategi “Survive” di Tengah Kenaikan Harga BBM: Tips Hemat Ala Anak Muda Kreatif 2026!
Tenang, guys. Hidup nggak berakhir cuma gara-gara bensin naik. Kita sebagai generasi yang paling adaptif pasti punya banyak cara buat tetep bisa mobilitas tanpa harus bangkrut. Nih, beberapa tips yang bisa kamu coba dan terapin mulai besok:
1.Maksimalkan Transportasi Umum yang Makin “Skena”: Sekarang transportasi umum di kota-kota besar Indonesia udah makin keren. MRT, LRT, dan TransJakarta itu udah nyaman banget, dingin, dan bisa buat tempat baca buku atau dengerin podcast dengan tenang. Coba deh mulai biasain naik transportasi umum buat perjalanan rutin ke kantor atau kampus. Selain jauh lebih murah, kamu juga ikut ngurangin polusi udara.
2.Gaya Hidup “Bike to Work” atau Jalan Kaki: Kalau tujuan kamu cuma ke minimarket depan komplek, ke tukang cukur, atau ke kafe yang jaraknya cuma 1-2 kilometer, mending jalan kaki atau sepedaan. Selain hemat bensin, ini adalah cara paling gampang buat olahraga biar badan tetep fit dan glow up tanpa harus bayar member gym yang mahal.
3.Carpooling atau “Nebeng Berjamaah”: Punya temen kantor atau kampus yang searah? Mending barengan aja! Uang bensin dan parkir bisa dibagi rata. Selain lebih hemat, perjalanan jadi nggak ngebosenin karena ada temen ngobrol. Ini juga bisa jadi ajang buat makin akrab sama gebetan, kan?
4.Rawat Kendaraan Secara Rutin (Servis Berkala): Ini serius, mesin yang kotor dan nggak terawat itu bikin konsumsi BBM jadi boros banget. Pastiin oli rutin diganti, filter udara bersih, dan yang paling penting: cek tekanan ban! Ban yang kurang angin itu bikin beban mesin jadi berat dan bensin jadi cepet abis.
5.Manfaatkan Promo Cashback dan Poin Digital: Sering-sering cek aplikasi MyPertamina atau dompet digital kayak GoPay, OVO, dan Dana. Kadang ada promo cashback atau poin yang bisa dituker sama voucher bensin. Lumayan banget kan buat nambahin beberapa tetes bensin gratis tiap minggunya.
6.Belajar Teknik “Eco-Driving”: Cara kamu bawa motor atau mobil itu ngaruh banget ke keiritan bensin. Hindari akselerasi mendadak (ngegas pol) dan pengereman mendadak kalau nggak perlu. Jaga kecepatan tetep konstan di angka yang efisien (biasanya 40-60 km/jam buat motor).
Analisis Ekonomi: Apakah Kenaikan Ini Bakal Bikin Harga Barang Lain Ikut Naik?
Ini adalah pertanyaan sejuta umat. Secara teori ekonomi, kenaikan harga BBM non-subsidi kayak Pertamax dampaknya ke inflasi nasional sebenernya nggak sedahsyat kalau Pertalite yang naik. Kenapa? Karena Pertamax itu target pasarnya adalah kendaraan pribadi kelas menengah ke atas. Kendaraan logistik pengangkut sayur, beras, dan barang kebutuhan pokok lainnya biasanya pake BioSolar atau Pertalite. Jadi, biaya distribusi barang pokok harusnya tetep stabil.
Tapi, kita harus tetep waspada sama “efek psikologis”. Kadang, pedagang atau penyedia jasa suka ikut-ikutan naikin harga dengan alasan “kan bensin naik”. Jasa transportasi online (ojol/car) mungkin bakal ngalamin penyesuaian tarif karena mitra driver mereka banyak yang pake Pertamax. Begitu juga harga makanan di kafe-kafe atau resto yang emang target pasarnya pengguna Pertamax. Jadi, saran buat kamu: mulai lebih bijak dalam mengatur pengeluaran bulanan. Bedakan mana yang “kebutuhan” dan mana yang cuma “keinginan” [5].
Respon Publik di Media Sosial: Antara Pasrah, Marah, dan Kreativitas Meme yang Tak Terbendung
@yudhakhel Akankah ini jadi jamu buat kita? Pait tapi ke depannya akan lebih sehat? Atau malah pait dan bikin muntah-muntah?
♬ original sound – bawang recommende by yudhakhel
@danielbudianto28 BERSYUKUR
♬ original sound – danielbudianto28
Media sosial Indonesia emang juaranya kalau soal urusan ngerespon berita sensitif kayak gini. Sejak pengumuman resmi tadi pagi, berbagai macam reaksi udah bermunculan. Di X (Twitter), tagar #PertamaxNaik langsung jadi trending. Isinya macem-macem, ada yang beneran marah karena ngerasa beban hidup makin berat, tapi banyak juga yang ngerespon dengan kreativitas khas netizen kita.
Meme-meme lucu mulai bertebaran. Ada yang bikin video parodi orang lagi “sungkem” ke tangki bensin motornya sebelum ngisi, sampe ada yang bikin tutorial “cara napas biar nggak butuh bensin”. Meskipun isinya lucu-lucu, sebenernya ini adalah bentuk mekanisme pertahanan diri masyarakat kita buat ngadepin kenyataan yang pahit. Ini juga jadi sinyal buat pemerintah dan Pertamina agar terus transparan dalam memberikan informasi dan memastikan pasokan BBM tetep lancar tanpa ada kelangkaan yang bikin orang makin susah.
Harapan ke Depan: Apakah Ini Saatnya Kita Benar-benar Pindah ke Kendaraan Listrik (EV)?
@koh_johan Dompet pada aman ngga nih? #mobillistrik #bbm #pertamax #mobil #ev ♬ After the Love Has Gone – Earth, Wind & Fire
Kenaikan harga BBM fosil yang makin nggak menentu ini sebenernya jadi sinyal kuat dari alam dan ekonomi bahwa ketergantungan kita pada energi yang nggak bisa diperbarui itu berisiko banget. Mungkin ini adalah momen “pencerahan” buat kita mulai serius ngelirik kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).
Meskipun harga beli awalnya mungkin kerasa lebih mahal dibanding motor/mobil bensin, tapi kalau kamu itung biaya operasionalnya (biaya cas listrik vs biaya bensin 16 ribu), perbedaannya jauh banget! Belum lagi biaya servisnya yang super minim karena nggak perlu ganti oli mesin. Plus, kamu juga ikut berkontribusi langsung buat ngurangin polusi udara di kota-kota besar Indonesia yang makin parah. Pemerintah juga udah banyak ngasih insentif buat pembelian kendaraan listrik. Jadi, buat kamu yang lagi rencana beli kendaraan baru, coba deh pikirin matang-matang buat beralih ke EV [6].
Kesimpulan: Tetap Tenang, Bijak, dan Terus Melangkah!
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter emang pil pahit yang harus kita telan di tengah kondisi ekonomi global yang lagi “meriang”. Tapi, sebagai anak muda yang cerdas, kita nggak boleh cuma pasrah atau cuma bisa ngeluh. Dengan memahami alasan di baliknya, mengatur ulang strategi keuangan, dan mulai beradaptasi dengan gaya hidup yang lebih efisien, kita pasti bisa ngelewatin tantangan ini.
Inget, yang paling penting bukan seberapa mahal harga bensinnya, tapi seberapa hebat kita bisa mengelola sumber daya yang kita punya buat tetep produktif dan bahagia. Tetap semangat buat kamu semua, tetep jaga kesehatan kendaraan, dan jangan lupa buat tetep berbagi sama sesama meskipun harga Pertamax lagi nggak ramah di kantong. Keep moving forward, guys!
Tabel Perbandingan Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026 (Wilayah Jabodetabek)
| Jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) | Harga Lama (Estimasi) | Harga Baru (per 10 Juni 2026) | Selisih Kenaikan |
| Pertamax (RON 92) | Rp 12.300 | Rp 16.250 | + Rp 3.950 |
| Pertamax Green 95 (RON 95) | Rp 13.900 | Rp 17.000 | + Rp 3.100 |
| Pertamax Turbo (RON 98) | Rp 14.400 | Rp 20.750 | + Rp 6.350 |
| Dexlite (CN 51) | Rp 14.550 | Rp 23.000 | + Rp 8.450 |
| Pertamina Dex (CN 53) | Rp 15.100 | Rp 24.800 | + Rp 9.700 |
| Pertalite (Subsidi) | Rp 10.000 | Rp 10.000 | TETAP |
| BioSolar (Subsidi) | Rp 6.800 | Rp 6.800 | TETAP |
FAQ: Semua Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Kenaikan Pertamax
1. Apakah harga Pertamax di daerah saya beda sama yang di Jakarta?
Harga BBM non-subsidi itu dipengaruhi oleh Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang besarnya ditentukan oleh masing-masing pemerintah provinsi. Selain itu, ongkos distribusi ke daerah terpencil juga berpengaruh. Jadi wajar kalau harga di luar Jawa-Bali bisa sedikit lebih mahal.
2. Apakah kenaikan ini bakal permanen atau bisa turun lagi?
Harga BBM non-subsidi itu sifatnya fluktuatif, guys. Artinya, harganya bisa berubah setiap bulan mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar Rupiah. Kalau nanti kondisi global membaik dan Rupiah menguat, ada kemungkinan harganya bakal disesuaikan turun lagi. Jadi, tetep pantau terus ya!
3. Amankah kalau saya “ngoplos” Pertamax dengan Pertalite biar lebih hemat?
Sangat tidak disarankan! Mencampur dua jenis BBM dengan oktan berbeda bakal bikin nilai oktan akhirnya jadi nggak jelas. Ini bisa bikin sensor mesin bingung dan malah memicu pembakaran yang nggak sempurna. Dalam jangka panjang, mesin kamu bisa rusak. Lebih baik konsisten pake satu jenis yang sesuai rekomendasi pabrikan.
4. Apa keuntungan pake Pertamax Green 95 dibanding Pertamax biasa?
Pertamax Green 95 mengandung campuran etanol nabati sebesar 5%. Selain oktannya lebih tinggi (95), emisi gas buangnya juga lebih rendah (lebih ramah lingkungan). Dengan harga selisih dikit sama Pertamax sekarang, ini bisa jadi alternatif buat kamu yang pengen performa mesin lebih jos.
5. Di mana saya bisa dapet info harga paling update biar nggak kena tipu?
Paling aman dan akurat adalah lewat aplikasi MyPertamina atau website resmi Pertamina Patra Niaga. Kamu juga bisa follow akun media sosial resmi Pertamina buat dapet info promo-promo menarik yang bisa ngebantu kamu lebih hemat.
Referensi dan Sumber Informasi Utama:
1.Laporan Dinamika Pasar Energi Global dan Harga Minyak Mentah Brent. (Juni 2026). Bloomberg Energy & Commodities.
2.Tinjauan Kebijakan Moneter dan Nilai Tukar Rupiah. (2026). Publikasi Resmi Bank Indonesia.
3.Perbandingan Harga Retail BBM RON 92 Antar Operator di Indonesia. (Juni 2026). Data Riset Independen Otomotif.
4.Siaran Pers PT Pertamina Patra Niaga: Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi Menghadapi Tekanan Global. (10 Juni 2026).
5.Analisis Dampak Kenaikan Harga Energi terhadap Struktur Biaya Hidup Masyarakat Perkotaan. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia.
6.Strategi Percepatan Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional 2025-2030. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Jangan lupa untuk informasi terbaru dan happening di Surabaya, Follow akun instagram @whatshappeningid dan Tiktok @whatshappeningid
Leave a comment